Cukup Sepi yang Berucap

Tak pernah sekali ku mencoba untuk melihat ke belakang karena semua baik baik saja, nampaknya. Kalau diperumpamakan seperti secangkir kopi hangat-agak panas yang mengepul asapnya ke udara yang sejuk dengan segarnya embun. Seperti itulah, nampak baik baik saja.

Lalu kenangan itu datang, menghampiri dan menyergapku, membawakan sejuta pesan yang dulu saling bertukar tak mengenal waktu nan jarak. Membawaku terbang bersama mimpi di langit yang berbintang. Melintasi milkyway yang luas, ribuan cahaya jaraknya jika diukur dari dimana tubuhku sekarang berada. Dan sekarang ini, aku masih berpikir yang seharusnya aku pikirkan.

Kehangatan itu hilang ditelan waktu, kesejukkan itu sirna tak tentu arah. Sekejab ku berpikir tentang masa keciku di rumah kakek rahimahullahu ta’ala dulu saat ijal masih kecil, TK kayaknya. Karena waktu aku TK untuk ke rumah kakek lebih dekat daripada untuk pulang. Keheningan lingkungan yang terasa sampai sekarang, sudut tempat yang sempat jadi memori setiap langkahku bermain, sekarang sepi begitu saja. Tidak ada orang.

Kedewasaan yang membuat lupa, sering mengabaikan, mencoba tenang menghadapi semua ini dengan banyak yang dipertaruhkan. Teruntuk diriku sendiri pun aku berminta maaf, karena tidak bisa memberikan yang terbaik, seperti kecukupan tidur misalnya.

Selalu bersyukur di pagi hari, yang tidak dan tidak akan pernah seperti dulu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s